Surga di Bandung Selatan
…Bila kita telah bisa memahami dengan baik bahasa alam, setingkat lagi kita akan bisa memahami bahasa kehidupan yang lebih tinggi lagi, bahasa keTuhanan. Dengan memahami bahasa Ketuhanan kita bisa membaca makna dan rahasia kehidupan, tak ada lagi rasa takut, sepi dan sedih, dimanapun dan kapanpun… (Hendra Messa)
Sabtu s/d Minggu kemaren kami sekeluarga di beri kesempatan oleh Allah untuk menyaksikan surga yang tercecer di bandung selatan. Perjalananan liburan yang sungguh mengesankan buat kami sekeluarga. Perjalanan yang mengencangkan kembali tali silahturahmi antara ayah/mama dan teman-teman waktu di Jogja dulu. Perjalanan ini juga dalam rangka menghadiri resepsi pernikahan teman kantor ayah di dekat PLTA cikalong (beberapa kilometer sebelum Pangalengan dari bandung).
Sabtu pagi kami berangkat dari rumah. Mbah Putri kali ini ga ikut. Dari acara resepsi pernikahan kami akan menuju ke daerah Pangalengan dan berencana akan menginap 1 malam di rumah teman kuliah ayah di Jogja dulu, namanya Dalrino yang istrinya bekerja dan tinggal di perkebunan teh Malabar-Pangalengan. Istrinya ini (Tante Ima) juga teman ayah dan mama. Tante ima ini adalah cucunya ibu kos ayah dulu sewaktu kuliah di Jogja. Sedangkan Om Dalrino ini adalah kakak kelas ayah yang juga satu kost dengan ayah. Selain kami juga ada teman ayah lainnya, om Sheffik. Om Sheffik dan istrinya (tante Juli) ini juga kuliah di tempat yang sama dengan ayah (UGM). Nah tante Juli ini saat ini sekantor dengan ayah.
Kami janjian ketemuan dengan om Sheffik di rest area km.40. Dari situ kami konvoi ke Bandung lewat tol Cipularang. Seperti biasa keluar tol kopo ke arah Soreang macet. Sesampai di Soreang kami ambil kiri kearah Banjaran. Di pertigaan banjaran kami ambil kanan arah Pangalengan. Kemudian setelah ketemu pintu gerbang PLTA Cikalong kami ambil kanan.
Acara pernikahan teman lumayan ramai dan menu hidangannya adalah nasi timbal….sedap sekali. Sepulang dari acara pernikahan kami istirahat dulu mess Indonesia Power yg disewa yg punya acara. Disini juga berkumpul banyak teman kantor ayah yang juga rencananya hendak menginap disana.
Sekitar jam 3 sore kami sekeluarga dan teman om Sheffik berserta keluarganya bersiap hendak berangkat ke rumah teman ayah Om Dalrino. Baik ayah maupun om Sheffik tidak ada yg tahu jalan ke sana kecuali petunjuk yang dikirim Om Dalrino lewat sms. Kami berangkat beriringan dengan posisi mobil kami di belakang. Sering kali di jalan kami berhenti untuk bertanya arah ke kebun Talun Santosa tersebut. Pemandangan disepanjang jalan bagus sekali. Udara juga sangat segar sehingga kami tidak menggunakan AC. Sekitar pukul 5 sore kami memasuki pintu gerbang PTPN VIII kebun Malabar. Dari sini ayah cek posisi dengan menelpon kembali teman ayah (Dalrino) karena kabarnya beberapa kilometer dari gerbang sinyal handphone dari provider manapun akan lenyap. Alhamdulillah kami di jalur yang benar.
Jalan menuju kebun Talun Santosa berkelok-kelok mendaki di sela-sela hijau kebun teh. Paru-paru kami disuguhi udara segar dan bersih. Pemandangan sepanjang jalan sungguh-sungguh luar biasa. Sepanjang mata memandang dipenuhi pohon-pohon teh yang katanya sudah berumur puluhan bahkan ada yg ratusan tahun. Sesungguhnya perkebunan ini adalah peninggalan Belanda yang jatuh ketangan negara setelah Belanda berhasil diusir dari negeri ini. Perkebunan ini didirikan sejak tahun 1896 oleh Karel Albert Rudolf Bosscha. Beliau mendedikasikan hidupnya untuk membangun dan mengembangkan perkebunan ini hingga akhir hayatnya. Makam Bosscha hingga saat ini masih terawat baik. Makam ini cukup megah. Pusaranya ditutup dengan kubah berarsitektur Eropa. Sekeliling makam dipagar dan ditutupi sejumlah pohon besar yang telah berumur tua. Selain mengembangkan kebun the Boscha juga merupakan seorang pemerhati astronomi. Peninggalannya yang paling terkenal adalah Observatorium Boscha di Lembang, Jawa Barat. Untuk mengoperasikan kebun ini Boscha membangun sebuah hydro-electric power-plant dengan kapasitas 3000HP di sungai Cilaki dan masih berfungsi sampai sekarang. Masih di area kebun Malabar tepatnya di Purbasari ini juga terdapat sebuah rumah sakit bernama Rumah Sakit Junghun. Nama rumah sakit ini diambil dari nama Franz W. Junghuhn yang menemukan tanaman kina obat anti malaria itu. Konon ia menemukan pohon kina pertama kalinya di area perkebunan ini.
Beberapa kilometer setelah pintu gerbang kearah Santosa terdapat hot spring water Cibolang yang ramai dikunjungi di hari libur. Selepas Kertamanah (kalau tidak salah) jalan yang tadinya hotmix beralih ke macadam. Makin keatas makin rusak dan beberapa kilometer menjelang kebun Talun Santosa keadaannya semakin parah sehingga mobil kami terpaksa bejalan merangkak apalagi malam telah jatuh dikawasan ini.
Akhirnya kami menemukan pabrik teh Talun Santosa. Setelah bertanya pada security pabrik the Talun Santosa kami temukan juga rumah Om Dalrino ini (7°15’9.88″S 107°38’27.26″E). Rumahnya terletak beberapa puluh meter dari pabrik Teh Talun Santosa. Sebenarnya yang berkerja disini adalah istrinya (tante Ima). Om Dalrino sendiri masih melanjutkan study untuk meraih gelar doktornya di ITB. Jadi beliau ini bolak balik ke sini setiap minggunya. Rumah Om Dalrino dan tante Ima ini dilengkapi dengan tungku pemanas bikin ayah ga sabar untuk segera menyalakannya karena udara yg sangat dingin (mungkin sekitar 12celcius). Herannya Keizha dan Farrell malah seperti tidak merasa dingin.
Ternyata Om Dalrino dan tante Ima belum pulang dari Bandung. Sambil menunggu kami beranikan diri/nekad bikin mie goreng karena ga tahan kelaparan ditambah dinginnya udara (tentu setelah dipersilahkan pembantunya). Malam itu kami dinner dengan mie goreng bikinan tante Juli.
Sekitar jam 8 malam akhirnya mereka datang. Kami langsung terlibat obrolan yang seru seputar masa lalu waktu kuliah di Jogja dulu. Mama juga tak ketinggalan karena mama juga kenal dengan Om Dalrino. Kami ini dulu sepermainan sewaktu kuliah di Jogja. Sementara Farrell, Nayla (anak Om shefik) asyik bermain tanpa menghiraukan dingin sementara kami menggigil kedinginan.
Sepanjang malam kami tidur kedinginan. Tapi Keizha malah pulas sekali tidurnya. Pagi-pagi ayah kuatkan diri untuk keluar jalan-jalan seputar rumah untuk mengambil beberapa jepretan. Tak beberapa lama kemudian Om Dalrino menyusul dan mengajak ayah jalan-jalan keliling kebun teh. Subhanallah….sungguh indah sekali pemandangannya….kami naik ke bukit kecil dibelakang rumah yang dipenuhi pohon teh. Kami melewati jalan setapak di sela-sela pohon teh. Kadang-kadnag menerabas diantara rapatnya pohon teh yang masih dibasahi embun. Sebentar saja pakaian kami sudah basah dibuatnya sehingga dinginnya pagi menyentuh kulit.
Dari puncaknya kami bisa melihat seluruh area perkebunan ini. Luas sekali…. Di kejauhan terlihat gunung Papandayan. Tak bosan-bosan ayah memandang berkeliling….kalau bukan karena dingin dan perut yang sudah keroncongan ayah belum akan turun dari bukit tersebut.
Sesampai di rumah Om Dalrino kami di suguhi makan pagi. Farrell makan dengan lahap karena semalam mogok makan. Kemudian diteruskan dengan ngobrol diteras tentang masa lalu di Jogja……
Jam 11:00 kami pamitan. Sepanjang jalan kami sering berhenti untuk berfoto maupun untuk sekedar menikmati pemandangan sambil menghirup udara segar. Di tengah jalan kami berpisah dengan om Shefik yg buru-buru karena akan melanjutkan jalan-jalannya di kota bandung. Kami memutuskan untuk mengeksplor Malabar saja. Semua cabang jalan kami masuki….semua serba teh …. hijau…udara segar….dan tenang. Tak salah daerah Pangalengan ini dijuluki juga Swiss of Indonesia.
Jika duduk merenung sambil memandang hamparan hijau disini terasa semakin kecil kita dihadapan Allah. Tak berlebihan Hendra Messa menulis seperti yang ayah kutip diatas….
Sekitar jam 14.30 kami baru meninggalkan Pangalengan. Setelah beristirahat dan makan di sebuah restorant kebun bernama Bebek Bakar antara Banjaran dan Soreang kami melanjutkan perjalanan pulang ke Jakarta.
Terima Kasih Om Dalrino dan tante Ima atas penerimaannya…..

Talun Santosa

Kabut pagi

kabut kabut

kabut

kabut

kabut

kabut

kabut

kebun teh talun santosa

kebun teh talun santosa

pond di talun

kebun teh talun santosa

papandayan di kejauhan

papandayan di kejauhan

pond di talun

kebum teh

pond

pond

Kebun talun santosa dari bawah

pond

pond

awan

antik-by katenzo

di rumah Dalrino
Rate this:
Like this:
July 2, 2009 - Posted by artinriky | Rekreasi | jalan-jalan, kebun teh, malabar, pangalengan, ptpn viii, talun, talun santosa
2 Comments »
Leave a Reply Cancel reply
The Art in Riky™
Art in Riky™ adalah sebuah keluarga yang terdiri dari Ayah, Mama dan dua orang anak . Kami adalah keluarga yang bahagia paling tidak begitulah yang kami rasa selama ini. Ayah seorang yang suka humor dan terbuka sedangkan Mama seorang yang pengertian serta menaruh kepercayaan yang besar sekali terhadap ayah. Kami di karunia 2 anak yg lucu-lucu. Farrell Zaidan Kyar Aqilla adalah putra pertama kami dan Keizha Cetta Kyar Beequilla adalah putri pertama kami. Disinilah kami mencoba menggoreskan jejak demi jejak, keping demi keping kehidupan yang kami jalani….
.:best view with opera & mozilla firefox:.
-
Recent Posts
-
Comments
artinriky on Surga di Bandung Selatan rezzz on Surga di Bandung Selatan Archives
art in riky™ Calendar
-
Top Clicks
- None
Art in Riky™ Tag Cloud
Art in Riky™ visitors Map
Visitors Map
Pages
Meta
Top Rated
Blogroll
We in Another Blog





Nice post Ky,..
Thank you Om Reza